Jelajah Kuliner Glodok: Perbauran Kultur Tionghoa dengan Budaya Lokal

Sudah lama saya tidak pernah jalan-jalan lagi sambil icip-icip kuliner. Sudah lama juga blog saya yang satu ini belum pernah saya isi kembali sejak terakhir mencicipi kuliner fast food Jepang di A&W. Sebenarnya kalau icip-icip kuliner saja, saya sudah pernah beberapa kali mengikuti acara yang diadakan Kompasianer Penggila Kuliner (disingkat KPK). Tapi kalau icip-icip sambil menjelajah tempat bersejarah, saya baru pertama kali mengalaminya bersama komunitas Jakarta Food Traveler yang digawangi Mbak Ira Lathief.

Mbak Ira Lathief yang cantik, pendiri komunitas Jakarta Food Traveler yang memandu saya dan 10 orang lainnya menelusuri kuliner Glodok. (foto: dokpri)

  Ira Lathief dikenal sebagai  entrepreneur, penulis beberapa buku non-fiksi best seller seperti “Normal Is Boring” dan “Do What You Love, Love What You Do“. Saya sendiri baru mengenalnya ketika Mbak Ira mengikuti acara jalan-jalan KPK ke pusat kuliner Bogor. Kalau acara jelajah kuliner bersama Mbak Ira pada Sabtu 1 April yang lalu, saya bersama sekitar 10 orang rombongan lainnya menelusuri pusat kuliner Glodok yang juga menyimpan banyak sejarah mengenai percampuran budaya Tionghoa dengan kultur lokal. Rute yang kami telusuri secara garis besarnya yaitu:

Novotel Gajah Mada-Basement Glodok City Plaza- Petak Sembilan-Klenteng Kwan Im- Gereja St.Maria de Fatima-Gang Kali Mati – Pia Lao Beijing – Warung Vegetarian- Losing Pertokoan Obat Tradisional-Pantjoran Tea House

Tulisan saya kali ini sepertinya bakal lumayan panjang. So…, siap-siap singsingkan lengan baju ya :D.

Rumah Cagar Budaya Candra Naya

Rumah Candra Naya yang dibangun sejak tahun 1800-an, menjadi salah satu cagar budaya yang menjadi daya tarik hotel Novotel Gajah Mada. (foto: dokpri)

Perjalanan kami dimulai dari Novotel Gajah Mada, yang lokasinya bersisian dengan Rumah Candra Naya. Ketika saya turun dari gojek di pelataran hotel, saya langsung terpana dengan keindahan bangunan berarsitektur Tiongkok tepat di seberang pelataran. Meskipun melihat rumah-rumah bergaya Cina bukan hal asing bagi saya, namun kali ini penataannya yang bernaung di bawah dua buah lorong perpanjangan bersepuhkan emas, yang berasal dari gedung perkantoran di belakangnya memberikan kesan ‘wah’, sekaligus mengundang decak kagum. Seolah-olah saya sedang berada di negeri antah berantah, ditambah pula saat itu ada turis-turis entah dari Hongkong, Taiwan, atau RRC (dari dialognya menggunakan bahasa asal negeri mereka) seliweran menggiring koper. Entah mungkin ada arti filosofi tersendiri dari struktur penataannya yang dibuat sedemikian rupa begini.

Kolam Teratai yang terletak di belakang rumah Candranaya, cantik banget ya! 🙂 (foto: dokpri)

Rumah Candra Naya ini konon sudah dibangun sejak tahun 1800-an dan dihuni oleh mayor Khouw Kim An yang pernah menguasai Batavia. Nama Candra Naya sendiri sebenarnya berasal dari nama perkumpulan sosial bagi para warga Tionghoa, Sin Ming Hui, lalu diubah menjadi nama Indonesia sejak peristiwa Gestapu. Hampir sempat dirobohkan untuk kepentingan pembangunan pada era Orde Baru, rumah tersebut kemudian dibeli oleh developer properti Modern Land, dan menjadi obyek wisata cagar budaya yang sekaligus menjadi nilai lebih bagi Novotel Gajah Mada. Di belakang rumah Candra Naya bisa kita temukan taman dan kolam teratai yang juga sedap dipandang mata, seakan-akan kita sedang berada di sebuah istana di negeri leluhur masyarakat Tiongkok (asalkan tidak ada gedung kantor yang menghalangi pemandangan :D).

Sirip Ikan Hiu Asli Indonesia

Sirip ikan hiu yang dijual Koh Iwan di lantai dasar Glodok City Plaza, harganya bisa mencapai ratusan ribu sampai dengan jutaan rupiah! Sirip ikan hiu itu yang ada di kantong-kantong besar berwarna kuning keemasan. (foto : dokpri)

Dari Candra Naya, perjalanan pun dimulai menuju Glodok City Plaza yang sempat menjadi sasaran kerusuhan tahun 1998. Yang menarik dari Glodok City Plaza ini adalah pada bagian lantai dasarnya yang menjual sirip ikan hiu. Sirip ikan hiu biasanya dimasak sebagai hidangan sup untuk perayaan hari Imlek, dinamakan Sup Hisit, dan karena harganya yang mahal (satu porsi bisa mencapai 8 juta rupiah!!) pada zaman dahulu hanya disantap oleh keluarga kekaisaran. Kalau beli perkeping kata Koh Iwan harganya ada ratusan ribu sendiri.

Ternyata, sirip ikan hiu yang dijual di toko punya Koh Iwan ini asli produksi dalam negeri, loh. Katanya, sirip ikan hiu ini diperoleh di laut-laut dalam di bagian timur Indonesia. Biasanya mereka memasok sirip ikan hiu ini ke restoran-restoran, meskipun ada juga yang membelinya untuk perorangan. Selain menjual sirip ikan hiu, yang lagi-lagi menarik bagi saya ternyata mereka juga menjual kurma Cina. Warnanya agak lebih merah dibandingkan kurma-kurma yang biasanya saya ketahui diimpor dari tanah Arab.

Selain sirip ikan hiu, tokonya Koh Iwan juga menjual kurma-kurma dari Cina yang warnanya agak lebih merah dibandingkan kurma pada umumnya. (foto: dokpri)

Dari Glodok City Plaza, kami menyusuri gang-gang sempit pasar Petak Sembilan yang menjual beraneka ragam hewan-hewan air yang tidak kita temukan di pasar-pasar pada umumnya. Ada bulus (sejenis kura-kura tapi cangkangnya lebih lunak dan kepalanya lonjong), ikan teripang (baru kali ini saya melihat wujudnya dari dekat yang saya pikir lintah raksasa, he he…), belut, juga daging babi. Baunya ya… lumayan anyir ;p. Padahal saya mulai menyukai bau-bau khas pasar rakyat karena menguarkan aroma kesegaran sayur-mayur, tapi kali ini saya terpaksa menutup hidung.

ikan teripang di Petak Sembilan yang saya kira lintah raksasa :p. (foto: dokpri)

Klenteng Dewi Kwan Im dengan Lilin-Lilin Raksasa

Tetapi, tidak jauh dari Petak Sembilan, kami menemukan sebuah klenteng tertua di kawasan Glodok. Meskipun saya pernah memasuki klenteng serupa juga sebelumnya, namun yang membedakan klenteng yang dibangun untuk memuja Dewi Kwan Im, atau Dewi Welas Asih ini adalah lilin-lilin raksasa setinggi tubuh manusia yang menghiasi bagian dalam bangunan utama klenteng. Kata Mbak Ira, klenteng Dewi Kwan Im di Glodok ini satu-satunya klenteng di dunia yang berisi lilin-lilin raksasa, yang tidak kita temukan di klenteng-klenteng lain.

lilin-lilin raksasa di dalam klenteng dewi Kwan Im Glodok. (foto: dokpri)

Berhubung lilin-lilin raksasa yang memenuhi bagian dalam klenteng jumlahnya lumayan banyak, hawa di dalamnya terasa cukup hangat dan membuat saya meleleh kepanasan. Klenteng ini telah dibangun sejak tahun 1600-an dan pernah dibakar pada saat terjadinya peristiwa pembantaian orang-orang Cina yang disebut Tragedi Pembantaian Angke tahun 1740.

Pada kedua dinding bangunan utama terdapat ornamen Cina berbentuk lingkaran yang diukir sangat indah berbentuk binatang menyerupai kuda disebut Qi Lin. Konon ornamen bergambar hewan tersebut merupakan lambang keberuntungan.

Ornamen cantik Qi Lin yang menghiasi dinding bagian depan bangunan utama klenteng Dewi Kwan Im. (foto: dokpri)

Santa Maria de Fatima, Gereja Berarsitektur Tionghoa

 Dari klenteng, kami beralih ke sebuah gereja yang terletak di Jalan Kemenangan (dulunya bernama Jalan Toasebio), tidak jauh dari SMA Ricci, juga masih di kawasan sekitaran Glodok. Mengunjungi kawasan ini seperti deja vu bagi saya sebab beberapa tahun sebelumnya saya pernah melewati daerah tersebut dalam rangka tugas kerjaan mempromosikan pendidikan luar negeri ke sekolah-sekolah, termasuk ke SMA yang saya sebutkan tadi. Namun, saya baru ngeh bahwa bangunan yang arsitektur gentingnya sangat khas Tiongkok  (karena melengkung pada kedua ujungnya) ini ternyata adalah gereja Katolik! Gereja Katolik ini dinamakan Santa Maria de Fatima dan dibangun oleh seorang pastor asal Portugis dari Malaka bernama Santo Fransiskus Xaverius pada sekitar abad ke-19.

Rombongan Jakarta Food Traveler berpose di depan gereja berarsitektur Tionghoa, Santa Maria de Fatima. (foto: dokumen Mbak Ira Lathief)

Di pelataran parkiran pengunjung bisa melihat patung Bunda Maria yang berbeda dari kebanyakan patung Bunda Maria yang saya temui karena ia tidak menggendong bayi Yesus, tapi sayangnya saya tidak sempat memotretnya. Gereja ini menjadi tempat ibadah utama bagi siswa-siswi SMA Ricci. Nama Ricci sendiri diambil dari tokoh Jesuit asal Italia, Matteo Ricci, yang menyebarkan agama Katolik di Tiongkok.

Pia Lao dan Daging Babi KW di Gang Kali Mati

Koh Akwet setia mengerjakan passion-nya melukis kaligrafi Cina sejak tahun 1970-an. (foto: dokpri)

Perjalanan kami lanjutkan menuju pusat kulinernya Glodok yang dinamakan Gang Kali Mati. Walaupun namanya terkesan menyeramkan, tetapi kami di sana justru merasakan suasana pasar yang hidup dan ramai dengan orang-orang yang berbelanja makanan rakyat.

Namun sebelum mencapai gang tersebut, kami sempat berhenti sebentar di pinggir sebuah rumah dari seorang seniman kaligrafi yang menjual ukir-ukiran tulisan kaligrafi Cina karyanya sendiri, bernama Koh Akwet. Sayangnya, tidak ada keturunannya yang mewariskan bakatnya membuat tulisan kaligrafi Cina ini, sehingga beliau menawarkan siapa saja boleh kursus atau berguru dengannya mempelajari aksara yang rumit ini.

Pia Lao Beijing yang laris-manis dan ludes dalam waktu kurang dari satu jam! (foto: dokpri)

Sampai di Gang Kali Mati, kami berhenti di sebuah stand yang menjual bakpia. Waduh… belum ada satu jam penganan manis dengan berbagai pilihan rasa, mulai dari coklat, keju, kacang hijau dan kacang merah ini sudah ludes dibeli! Pia Lao Beijing, begitulah nama bakpia yang dihidangkan hangat-hangat fresh from the oven, dijual dengan harga Rp 5000,- perbiji. Ukurannya agak lebih besar daripada bakpia Pathok, makanya agak mahal, tapi saya nggak rugi deh mengeluarkan kocek segitu. Malahan sejak menikmati Pia Lao pertama rasa cokelat, saya ingin membelinya lagi beberapa biji untuk bekal di kos (maklum yah anak kost :D) tapi apa daya nyaris semua bakpia sudah habis, tinggal rasa kacang merah saja. Huu…

warung vegetarian milik Koh Handi yang menjual daging babi KW. Pelanggannya ibu-ibu haji berjilbab juga loh! (foto: dokpri)

Di seberang stand bakpia, kami menemukan sebuah lapak yang juga tidak kalah laris manis, yaitu Warung Vegetarian milik Koh Handi yang menjual daging babi versi KW. Maksudnya, daging babi bohong-bohongan yang sebenarnya dibuat dari tepung gluten, lalu dimasak sedemikian rupa sehingga bentuk dan teksturnya seperti chasiu yang berwarna merah.

Rootbeer a la Indonesia yang rasanya nggak kalah dengan rootbeer impor. Segar dan menyehatkan karena bahannya daun herbal dari Meksiko. (foto: dokpri)

Kata Koh Handi, banyak pelanggan setianya adalah ibu-ibu haji berjilbab yang biasanya memesan berkilo-kilo untuk distok di kulkas. Selain daging babi KW, Koh Handi juga menjual rendang yang terbuat dari jamur, namun ketika saya santap rasanya benar-benar menyerupai daging rendang betulan!

Saya cukup mengeluarkan kocek Rp 15.000,- untuk memborong daging babi KW dan rendang jamur. Murah meriah, ya :). Koh Handi sendiri menjalankan hidup sehat sebagai seorang vegetarian, maka semua makanan yang dijualnya memang tidak ada yang dibuat dari unsur hewan.

Rujak Shanghai dengan bahan utama daging ubur-ubur! Hhm.. saya tidak sempat mencicipinya. Seperti apa ya rasanya? (foto: dokpri)

Kemudian kami menuju ke sebuah toko yang menjual minuman rootbeer tapi buatan aseli Indonesia dengan rasa sarsaparilla merk Cap Badak. Rasanya, wah nggak kalah deh dengan rootbeer yang dijual resto cepat saji dari negeri Paman Sam ;). Minuman ini ternyata diproduksi di daerah Pematang Siantar, Sumatera Utara sejak tahun 1916 dan dibuat dari ekstrak tanaman herbal asal Meksiko.

Di toko yang sama ada juga seorang pedagang menjual Rujak Shanghai, dengan bahan utama yaitu daging ubur-ubur. Rasanya seperti apa, saya sendiri tidak sempat mencicipinya. Namun saya lihat sih banyak juga calon pembeli yang mengantri di toko yang sudah berdiri sejak tahun 1948.

Tradisi Patekoan di Pantjoran Tea House

Toko obat Tang Sey Ho yang ada di bilangan Pancoran, Glodok. Berada di dalamnya seolah-olah saya sedang berada di sebuah film laga ber-setting Cina jaman dulu. Bedanya tidak memakai baju a la pendekar ;). (foto: dokpri)

Sebelum mencapai tempat tujuan terakhir, kami berhenti sebentar di depan sebuah toko obat tradisional Cina Tay Seng Ho yang juga menjadi tempat praktik seorang sinshe atau tabib Cina. Di dalamnya saya melihat kesibukan para peramu obat yang sedang menimbang, menakar bahan ramuan, serta para pembeli yang duduk atau mengantri memberikan resep obat. Rasanya seperti berada di film-film laga ber-setting Cina zaman dahulu kala.

Tidak jauh dari toko kami temukan juga sebuah lapak yang menjual berbagai ramuan tradisional dalam kemasan plastik untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Ada ramuan obat untuk penderita diabetes, ada ramuan daun kelor untuk obat awet muda, bahkan ada pula ramuan obat jerawat. Salah satu dari kami ada yang nyeletuk, ada nggak ya ramuan obat supaya cepat dapat jodoh? Huehehe…

Berbagai ramuan tradisional Cina dalam kemasan plastik untuk berbagai penyakit. Ada ramuan obat untuk cepat dapat jodoh nggak ya? (foto: dokpri)

Selepas jam 12 siang, akhirnya kami sampai juga di Pantjoran Tea House, sebuah restoran yang dulunya merupakan gedung Apotheek Chunghwa yang dibangun pada tahun 1928, terletak persis di mulut Jalan Pancoran, Glodok.  Ada tradisi yang unik yang diwariskan dari gedung yang pernah menjadi markas Kapiten Gan Djie ini.

Tradisi Patekoan, diambil dari nama jalan tersebut sebelum diganti menjadi Jalan Perniagaan, merupakan inisiatif sang kapiten beserta istrinya meletakkan delapan teko teh bagi para pedagang keliling yang menumpang berteduh di bawah gedung kantornya. Teko teh yang dihidangkan juga bukan teko biasa, melainkan teko teh dari logam aluminium berwarna hijau lumut yang mengingatkan saya pada teko-teko minuman milik mendiang Eyang Putri di tanah Jawa. Mbah Putri dari pihak ibu seingat saya juga pernah mempunyai teko tersebut.

Bagian interior Pantjoran Tea House yang dulunya merupakan gedung apotek. (foto: dokpri)

Tehnya sendiri sih teh pahit biasa yang tidak diberi gula, namun ketika meminumnya saya terkenang dengan masa lalu sewaktu saya masih kecil di pangkuan orang-orang tersayang. Mbah atau Eyang menuangkan teko berisi teh ke gelas-gelas yang juga berwarna hijau lumut dari aluminium untuk dihidangkan ke anak cucunya. Ah, nostalgia jadinya :).

Tradisi Patekoan di depan Pantjoran Tea House, gedung cagar budaya yang dinominasikan UNESCO. (foto: dokpri, diambil oleh Riap Windhu)

Gedung Pantjoran Tea House saat ini sudah direvitalisasi dan dinominasikan oleh Kemendikbud sebagai situs warisan dunia ke kantor UNESCO yang berpusat di kota Paris. Yah, semoga saja kelestarian gedung ini tetap terjaga sebagai saksi sejarah Indonesia buat generasi berikutnya.

Selesai sudah perjalanan perdana saya bersama Jakarta Food Traveler ke kawasan Pecinan Glodok. Dari mblusukan ke berbagai tempat kuliner dan obyek wisata sejarah ini, membuktikan bahwa tradisi budaya dan kuliner Cina telah melebur dengan masyarakat Indonesia, terutama yang beragama Islam, sudah sejak ratusan tahun lamanya. Bahkan, penyebar agama Islam di Indonesia itu salah satunya adalah Laksamana Cheng Ho dari Cina yang membawa armada pasukannya ke Tanah Air. Meskipun sebelumnya sudah dibawa oleh para pedagang dari Gujarat, namun perkembangan Islam di pulau Jawa menjadi lebih pesat sejak kedatangan sang laksamana yang juga beragama Islam ini. Maka itu, banyak dari pedagang, penjaga klenteng, maupun pegawai toko yang kami temui juga beragama Islam, dan hidup dengan damai bersama warga keturunan Cina. Sungguh indah bukan keharmonisan yang mereka jaga demi Indonesia tercinta ;). ***

Advertisements

3 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s