Warna-Warni Kultur Jepang di Little Tokyo Melawai

Ada sebuah tempat di kawasan Melawai, Jakarta Selatan, yang menjadi tempat hang out-nya para ekspat Jepang di ibukota sejak zaman tahun 90-an. Melihat kawasan ini seperti deja vu bagi saya, bukan karena dulu saya sering melintasi daerah itu sejak zaman SD hingga SMA. Sekolah saya letaknya memang di Jl. Sisingamangaraja yang berdekatan dengan Blok M dan Melawai. Namun, perasaan pernah melihat tempat itu (makna dari deja vu) lantaran saya pernah mengunjungi sebuah supermarket di daerah Melawai dalam rangka hunting pernak-pernik bahan prakarya membuat boneka washi*) bersama teman kuliah saya. Ingatan masa kecil saya yang samar-samar juga pernah membawa saya ke sebuah restoran Jepang milik ayah sahabat saya sejak zaman sekolah, yang juga keturunan Jepang, pun di kawasan yang sama.

Little Tokyo di sepanjang Jalan Melawai, Jakarta Selatan, sudah ada sejak tahun 1990-an sebagai tempat hiburan para ekspat Jepang yang berdomisili di ibukota. Dinamakan Little Tokyo karena terdapat banyak restoran Jepang dan tempat hiburan seperti karaoke (foto: dokpri)

Maka, begitu Mbak Ira Lathief, pendiri komunitas Jakarta Food Traveler mengumukan seusai acara Trip Kuliner ke Glodok, bahwa perjalanan minggu berikutnya, yaitu 8 April 2017, akan menyambangi sebuah kawasan yang dianggap tempat gaulnya komunitas masyarakat ekspat Jepang di Jakarta, saya pun tertarik untuk bergabung. Tempat gaul tersebut dinamakan Little Tokyo, dan telah eksis sejak tahun 1990 lengkap dengan berbagai restoran serta tempat karaoke. Bahkan, konon kawasan ini juga menjadi transaksi PSK bagi para turis dan ekspat Jepang.

rombongan Jakarta Food Traveler berkumpul di depan Taman Sepeda Melawai sebelum memulai trip kuliner di sepanjang kawasan Little Tokyo. (foto: dokpri)

Yah, yang jelas pada zaman itu kawasan Melawai-Blok M pernah menjadi tempat nongkrong remaja ibukota yang nge-hitz abis dengan Plaza Aldiron dan Blok M Plaza. Saya masih ingat sekali teman-teman sekolah saya kalau cabut jam pelajaran biasanya pada mangkal di Blok M.  Blok M juga ternyata ada kepanjangannya loh buat para remaja gaul kala itu, yang merupakan singkatan dari Bakal Lokasi Mejeng, wedeww.. jadul abis, ha ha!

 Tempat-tempat yang kami telusuri sepanjang hari Minggu sore di kawasan Little Tokyo-nya Melawai  dimulai dari supermarket Papaya, Kedai Filosofi Kopi, Pasar Tradisional Melawai, Toko Roti La Mouette, dan berakhir di restoran otentik Jepang Kashiwa. Kisahnya mungkin tidak sepanjang Trip Kuliner Glodok, namun tetap menarik untuk diikuti karena ada kejutan yang terjadi di sepanjang perjalanan kami mengarungi kawasan Little Tokyo. Apakah itu? Ah, lanjut saja deh bacanya ;).

Taman Sepeda Melawai

Sebelum perjalanan dimulai, rombongan Jakarta Food Traveler yang berjumlah sekitar sepuluh orang berkumpul di depan Taman Sepeda Melawai. Taman ini seingat saya belum ada ketika saya masih bersekolah dari SD sampai SMA di Al-Azhar, karena seperti yang saya bilang sebelumnya, hampir tiap hari saat pulang sekolah saya lewat daerah itu. Seingat saya dulunya tempat itu malahan sebuah pom bensin yang pernah jadi biang kemacetan di kawasan Melawai.

Taman Sepeda Melawai yang dibangun pada masa pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Kayak bangku di film Forest Gump yah 😀 (foto: dokpri)

Berdasarkan literatur di internet yang saya baca sih, taman ini baru dibangun pada masanya Pak Fauzi Bowo memerintah sebagai Gubernur DKI. Hhm.. saya kira tadinya pembangunan taman-taman kota di Jakarta baru dimulai pas zamannya Ahok saja, he he.. . Yang jelas, Melawai kini terlihat lebih terawat dan asri dengan adanya taman tersebut, ditambah lagi ada jalur perlintasan sepeda di trotoar yang diberi cat khusus warna kuning. Berasa di luar negeri, deh :). Selain itu, pemberian nama sepeda disebabkan adanya replika sepeda berukuran sepeda orang dewasa yang dipajang di tengah-tengah taman. Plus, ada bangkunya juga di atas trotoar, seolah-olah saya seperti sedang berada di setting-an film Forest Gump :D.

 Papaya Fresh Gallery: Supermarket Produk Makanan Otentik Khas Jepang

Papaya Fresh Gallery atau Supermarket Papaya yang menjual berbagai produk makanan dan minuman khas Jepang. Pada malam hari, produk yang mereka jual diskon sampai 50%, loh! (foto: dokpri)

Perjalanan pertama dimulai dengan mengunjungi supermarket Papaya yang dikelola oleh orang asli Jepang dengan semua pegawainya orang Indonesia. Supermarket ini menjual berbagai produk makanan otentik khas Jepang mulai dari penganan kue, roti, sushi, hingga ke produk makanan kemasan seperti mie, snack, es krim. Ada kue dorayaki-nya Doraemon juga loh di sini! Awalnya sih saya sempat galau antara beli atau nggak beli kue berbentuk bulat pipih tersebut, berhubung harganya lumayan memberatkan kocek untuk ukuran satu porsi kecilnya (Rp 15.000,-). Tapi, setelah berpikir panjang saya memutuskan membeli satu porsi untuk dibawa pulang, dan… rasanya nggak bikin nyesel ;).

Es krim yang dijual di Supermarket Papaya ini, selain murah-meriah, juga berlabel halal! (foto: dokpri)

Yang mengejutkan, harga produk es krim kemasan di supermarket ini murah meriah banget, jauh lebih ringan di kocek ketimbang produk es krim yang iklannya sering seliweran di layar televisi. Nggak percaya? Kapan-kapan mampir deh ke supermarket yang terletak di Jl. Melawai Raya no.28, persis di pinggir jalan raya. Anda bisa mendapati satu batang es krim seharga Rp 1000,- saja, dengan rasa yang nggak kalah enak dengan es krim yang sering Anda beli di minimarket biasa. Saya sendiri membeli es krim batangan rasa coklat seharga Rp 3000,- dan rasa coklatnya mantep banget! Nggak terlalu kental, nggak terlalu encer. Selain itu, produk es krim yang dijual di supermarket Papaya berlabel halal, loh. Kami sempat bertanya kepada salah seorang manajer toko yang orang asli Indonesia, dan beliau bilang es krim berlabel Jepang tersebut ternyata diproduksi di Indonesia.

Kue Dorayaki yang saya beli dari supermarket Papaya, kemasannya bikin gemes dan penampilannya bikin sayang untuk dimakan, he he he.. (foto: dokpri)

Harga murah-meriah itu nggak hanya berlaku untuk es krim saja, tapi untuk sebagian besar produk makanan siap saji jika Anda mampir di atas jam 8.30 malam. Diskonnya bisa sampai 50% untuk produk-produk makanan yang diletakkan di lemari pendingin bak terbuka. Sebagian produk rotinya juga diskon, kecuali dorayaki, hu hu..

Bertemu Glenn Fredly dan Chicco Jericho di Kedai Filosofi Kopi

Kedai Filosofi Kopi di Melawai jadi tempat gaul baru anak muda Jakarta. Antriannya sampai keluar pintu, ck ck ck.. (foto: dokpri)

Perjalanan kami selanjutnya menuju Kedai Filosofi Kopi yang menjadi lokasi pembuatan film Filosofi Kopi-nya Dee Lestari. Kedai ini sih katanya memang sengaja dibangun untuk setting film, namun sekarang malah menjadi pusat gaul barunya muda-mudi Jakarta. Setidaknya, itu terlihat dari antrean yang terlihat hingga mengular ke luar pintu  dan didominasi oleh anak remaja-dewasa muda dengan dandanan modis. (yah seenggaknya tidak belel seperti saya, ha ha..). Kami hanya mampir sebentar di kafe tersebut, yang bentuknya memanjang persegi empat dan di tengah-tengahnya ada meja untuk kasir plus display papan menu, etalase kue, dan mesin pembuat kopi. Kisaran harga kopinya mulai dari Rp 15ribu hingga Rp 40ribuan. Bangunannya sendiri merupakan hasil renovasi lantai satu sebuah bangunan bertingkat yang terbengkalai di dalam kawasan Melawai-Blok M Square.

Bagian dalam Kedai Filosofi Kopi, didominasi sebuah meja besar di tengah untuk kasir, merangkap etalase kue, papan menu dan coffee maker. (foto: dokpri)

Saya hanya sempat jeprat-jepret beberapa pojokan kafe yang memang kelihatannya berupa spot bagus untuk difoto. Namun, saya tidak menyadari bahwa di antara sisi-sisi yang saya jepret itu ada sosok Glenn Fredly sedang berbincang-bincang bersama seorang temannya, ha ha ha.. Memang sih saya sempet ngerasa, ini koq orang nyengar-nyengir waktu saya jeprat-jepret foto dengan kamera mengarah ke dia (entah dianya kegeeran), sampai akhirnya waktu salah seorang dari kami menghampiri dia dan memanggil-manggil “Glenn!” barulah saya ngeh :p.

Sedang asyik jeprat-jepret bagian dalam Kedai Filosofi Kopi, saya nggak ngeh pria di pojokan itu ternyata Glenn Fredly ;p. (foto: dokpri)

Belum habis keterkejutan saya, ketika kami baru saja melangkah keluar dari kafe, tiba-tiba muncul sosok Chicco Jerikho dari arah parkiran mobil. Sontak para pengunjung kafe yang duduk-duduk di beranda langsung pada minta foto bareng. Tubuhnya yang tinggi tegap ditambah paras gantengnya pastilah bikin hati cewek-cewek kebat-kebit, termasuk saya, ha ha ha..  Tapi saya nggak berani minta foto bareng, sudah gemetar duluan :p. Apalagi Chicco dengan ramah menyapa para pengunjung sambil terus mengucapkan terima kasih dan menangkupkan tangan di depan dada. Ah, Chicco…

Toko Kopi Aka Melawai : Penjual Kopi Nan Bersahaja

Toko Kopi AKA di pasar tradisional Melawai, sudah ada sejak tahun 1970-an, menjual biji-biji kopi Arabika, Luwak, Robusta. (foto: dokpri)

 Sebelum lupa daratan, rombongan kami harus terus maju ke tempat tujuan berikutnya, yaitu Pasar Tradisional Melawai. Di pasar ini kami menjumpai sebuah toko kopi, yang lebih tepatnya mirip lapak sih, bernama Toko Kopi Aka. Pemiliknya, Koh Atung, katanya sudah berjualan sejak zaman dia masih sekolah, kalau saya tidak salah ingat sekitar tahun 70-an. Biji-biji kopi yang dijualnya disimpan dalam toples-toples berbahan kaleng dan diberi label sesuai asal-muasal biji kopi tersebut. Ada Luwak, Arabica, Gayo, Robusta dan Toraja.

Koh Atung, pemilik Toko Kopi Aka yang setia berjualan biji kopi di lapaknya yang sederhana. (foto: dokpri)

Koh Atung asik berdiskusi dengan salah seorang rombongan yang memang pencinta kopi, sedangkan saya hanya mendengarkan sambil manggut-manggut. Koh Atung bisa menebak loh jika kita memang suka kopi beneran atau bohong-bohongan. Sayangnya saya memang tidak terlalu menyukai kopi karena perut saya tidak toleran. Tapi, kalau kata teman kantor saya sih, asalkan biji kopi diolah dengan benar maka tidak akan menyebabkan sakit perut. Ia lalu menyodorkan sekantung biji kopi rasa luwak yang sudah digerus dengan mesin penggiling kopinya yang kelihatannya sudah usang, tetapi ternyata awet. Usia mesin tersebut sama dengan usia lapaknya.  Aroma biji kopi luwak tuh ternyata… asyem yah, he he… Saya pun iseng bertanya, apakah tidak ada keinginan mewariskan lapak kopi tersebut ke anak-anaknya, atau mengembangkan lapak kopinya menjadi sebuah toko yang representatif (berhubung biji kopi jualannya ini banyak diminati orang Jepang, loh!). Koh Atung hanya menjawab singkat, “Enggak, saya senang begini ajah.”

Sehat selalu yah, Koh, laris-manis dagangannya! :).

Bakery Jepang La Mouette

Bakery Jepang bernama Prancis, La Mouette, juga menggelar harga diskon di atas jam 8.30 malam. (foto: dokpri)

Menjelang Maghrib, kami mampir di toko roti La Mouette yang juga diminati banyak ekspat dan turis Jepang. Meskipun tulisan nama tokonya seperti nama Prancis, tetapi yang mengelola orang Jepang asli sejak tahun 2011. Penganan khas di sini antara lain puding karamel Nameraka yang creamy banget (harga Rp 17.000,-) dan Marugoto Banana yang berupa pisang berlapis sponge cake (harga Rp 26.000,-). Sayangnya kedua menu kemarin tidak sempat saya lihat berhubung katanya sudah habis diborong. Huhu…

Bagian dalam bakery La Mouette yang menjual menu khas puding karamel dan sponge cake yang sudah ludes saat kami tiba. (foto: dokpri)

Seperti supermarket Papaya, toko roti yang terletak di Jl. Melawai IX no.32 ini juga mengobral beberapa produk rotinya di atas jam 8.30 malam. Tapii… ketika saya kembali lagi ke toko itu malam harinya, roti yang diobral sudah habis. Ya sudah, saya beli roti tawarnya saja yang harganya pun murmer ketimbang roti tawar-roti tawar yang biasa saya temukan di minimarket atau supermarket langganan. Meskipun tidak didiskon, satu bungkusnya saja yang berisi 8 lembar harganya cuma Rp 12.000,- loh!

Kashiwa: Restoran dengan Menu Otentik Jepang

Resto Kashiwa, dari luarnya tampak seperti sebuah hotel tua dengan pintu dan lorong beserta anak tangga menuju lantai atas. (foto: dokpri)

Tempat tujuan terakhir wisata kuliner kami selepas Maghrib adalah resto Jepang Kashiwa, yang menyuguhkan menu otentik khas Jepang dan tidak kita temukan di resto-resto Jepang mainstream di Indonesia. Meskipun menunya berbeda dengan kebanyakan resto Jepang pada umumnya di Indonesia, mengenai harga Anda tak perlu kuatir, karena setiap makanan dibandrol dengan harga Rp 28.000,- saja (belum termasuk pajak 10%).

Penampakan resto yang baru buka di atas jam 6 sore ini dari pinggir jalan hanya berupa sebuah celah pintu dan sebuah lorong dengan beberapa buah anak tangga menuju ke lantai dua. Rasanya seperti memasuki sebuah loteng atau bangunan-bangunan tua di luar negeri yang diawali dengan lorong sempit. Di depan pintu dapat kita lihat sebuah lampion berhiaskan kaligrafi Jepang, dan sebuah meja tinggi memperlihatkan menu restoran tersebut.

Rombongan Jakarta Food Traveler pose ceria dulu sambil memesan menu di resto Kashiwa Melawai. (foto: dokpri)

Di dalamnya pun lebih unik lagi. Meja kursi berbahan kayu mendominasi ruangan makan di lantai dua, yang antara meja satu dengan meja lain dibatasi sekat-sekat, terutama untuk dua buah meja panjang yang dapat memuat belasan orang. Sepintas sih bilik-bilik makan tersebut nampak seperti lesehan, padahal sebenarnya pengunjung duduk seperti biasa hanya saja susunan lantainya lebih tinggi daripada lantai di luar bilik, dengan celah di tengah untuk memasukkan kaki meja. Selain itu, para pengunjung yang memilih tempat makan di dalam bilik duduknya beralaskan bantal dan tikar dari kayu halus yang disebut tatami. Selain bentuk bilik, pengunjung juga bisa makan di meja kursi biasa yang bisa memuat dua orang.

Bagian dalam resto Kashiwa di Melawai yang didominasi meja, kursi, perabotan dan lantai kayu, serta lampion-lampion Jepang. (foto: dokpri)

Persis di sebelah resto Kashiwa saya sempat melihat gadis-gadis dalam balutan rok pink terang yang ketat dengan riasan menor berdiri di depan sebuah bangunan yang tampaknya karaoke. Mereka sama sekali cuek jika penampilan Anda biasa saja, tapi begitu bule atau orang berperawakan Jepang melintas, wah… tiba-tiba cewek-cewek berbaju seksi itu berubah jadi manis manja group. Anda jangan sampai salah masuk, ya, he he…

Menu Resto Kashiwa: Sushi, Steak, Okonomiyaki

Walaupun mayoritas pengunjung orang Jepang, tapi orang Indonesia juga boleh makan di sini, loh, dan para pelayannya juga orang Indonesia. Menu-menu yang ditampilkan pun ada tulisan berbahasa Indonesia selain aksara Jepang. Saya bersama Mbak Windhu dan Syifa memilih tiga menu, yaitu Sushi Kashiwa Roll, Saikoro Steak dan Kaisen Okonomiyaki.

Menu Sushi Kashiwa Roll yang mirip-mirip California Sushi Roll. (foto: dokpri)

Sushi Kashiwa Roll ini mirip-mirip california sushi roll yang lazim dijual di resto-resto sushi,  namun rasanya lebih khas Jepang saja dengan bahan-bahan daun selada keriting, irisan daging ikan salmon, ketimun, bawang bombay, bercampur bumbu tenkasu (remah-remah gorengan), saus mayo dan telur ikan tobiko.

Saikoro Steak berupa irisan daging sapi berbentuk dadu dengan taburan bawang bombay dan daun lobak parut. (foto: dokpri)

Sementara itu, Saikoro Steak berupa daging sapi yang diiris kecil-kecil berbentuk dadu dengan taburan irisan bawang bombay tumis yang banyaaak sekali. Dihidangkan di atas hotplate dengan parutan buah lobak yang bentuknya sepintas seperti butter leleh atau kentang puree.  Dinamai saikoro karena irisan dagingnya yang kotak-kotak seperti dadu. Bagi lidah orang Indonesia mungkin perlu ditambahkan  garam karena rasanya yang agak hambar.

Kaizen Okonomiyaki, salah satu menu resto Kashiwa yang rasanya mirip martabak telor. (foto: dokpri)

Menu terakhir, Kaisen Okonomiyaki, dari penampakannya seperti pizza karena menyerupai pancake dengan bentuk bundar, disajikan juga di atas hotplate. Kalau orang Indonesia bilangnya sih martabak, sebab ketika dimakan pun rasanya memang seperti melahap martabak telor. Yang membedakannya adalah taburan bawang daun berwarna cokelat yang diiris tipis-tipis seperti ampas gergaji kayu ;p.

Tiga menu yang kami santap ini sudah lumayan banget bikin perut kami kenyang, walaupun setelah itu kami masih berburu es krim dan roti harga diskon di Papaya supermarket serta Bakery La Mouette, he he he…

Dedengkotnya Jakarta Food Traveler, Mbak Ira Lathief (t-shirt merah), berfoto bareng Chicco Jerikho. Saya mengamati dari jauh saja, he he.. (foto: dokpri)

Seusai makan di Kashiwa, selesai sudah perjalanan kami mengarungi Little Tokyo. Tapi saya masih belum puas tuh (artinya harus balik lagi) karena belum sempat icip-icip menu kopi dan kue-nya Filosofi Kopi, sama belum kesampaian menikmati Marugoto Banana-nya La Mouette. Katanya uenaak tenan! Teman-teman yang hobi eksplorasi kuliner baru, bisa mencoba merambah ke kawasan ini ya ;). Sampai jumpa lagi! ***

*) Boneka washi: boneka kertas dengan corak dan motif khas Jepang

Advertisements

10 Comments Add yours

  1. Sutiono says:

    Wah yang kebat-kebit hatinya, dan satu-satunya yang dapat no HP Chico he.he.he…

    1. dinamars says:

      husy, Pak, rahasia ;p

  2. r windhu says:

    Nggak fotoan sama Chico, yang puenting dapat nope, sesuk iso poto bareng lebih keren. Yuk kesitu lagi pas diskon makanan, khususnya dorayaki… heueu

    1. dinamars says:

      aamiin, semoga bisa ketemu Chicco lagi *halah :p* ayuk kita hunting lagi di Papaya sama La Mouette 😀

  3. Ira lathief says:

    Kereeeen sharingnya

    1. dinamars says:

      hehe, makasih Mbak sudah diajak ke Little Tokyo 🙂

  4. mysukmana says:

    wah bisa di jadikan suasana baru untuk merasakan tokyo ala indonesia yah

    1. dinamars says:

      iya, suasana Jepang-nya kerasa banget di sini 🙂

  5. sering dateng acara festival japan matsuri klo ngadain di Blok M
    nuansa jepangnya emang dapet bgt sih

    1. dinamars says:

      ah, tiap bulan apa tuh festival matsuri, Mpok?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s