Wisata ke Mausoleum dan Makam Yahudi di Jakarta, Bukti Kebhinekaan Indonesia

Ternyata Jakarta punya mausoleum yang megah, letaknya di TPU Petamburan, Jakarta. (foto: dokpri)

Saya kira, makam dijadikan tempat wisata hanya ada di kota Paris, Prancis. Saya juga belum pernah berkunjung ke Père Lachaise, sih, walaupun pernah menyambangi kota itu beberapa kali. Di sana katanya dikuburkan sastrawan, musisi, seniman dan tokoh-tokoh yang menorehkan namanya dalam sejarah dunia seperti Chopin, Oscar Wilde, Balzac. Ada juga makam di Jakarta yang katanya juga dijadikan tempat wisata, yaitu Museum Prasasti (dan saya pun belum pernah berkunjung ke sana, menyedihkan yak 😝). Soalnya saya pikir saat itu buat apa berwisata ke kuburan, malah bikin bulu kuduk merinding. Entah mungkin saya juga termakan cerita-cerita horor tentang imej kuburan yang selalu jelek.

Anitkabir, atau mausoleum bapak pendiri Turki modern, Kemal Pasha yang diberi gelar Ataturk. Mausoleum ini pernah saya kunjungi pada tahun 2006 silam. (foto: dokpri)

Namun, berkunjung ke Mausoleum pernah saya lakukan yaitu ke makamnya bapak pendiri Turki modern, Kemal Pasha, di kota Ankara. Itu juga karena saya penasaran banget sama sejarahnya Turki ketika masih getol-getolnya belajar sejarah (sekarang juga masih, sih). Mausoleum itu sendiri artinya rumah makam, penandanya berupa sebuah bangunan besar seperti rumah, lengkap dengan atapnya, dan biasanya dibuat untuk memakamkan satu keluarga. Selain di Ankara, mausoleum lainnya yang ada di dunia adalah Taj Mahal di India, yang dibuat untuk permaisurinya Shah Jahan dari dinasti Mughal, dan mausoleum Lenin di Rusia. Nah kalau ke India saya memang belum pernah pergi ke sana 😃.

Bagian dalam Mausoleum OG Khouw yang dihiasi patung malaikat bergaya Renaissans. (foto: dokpri)

Dan, saya baru tahu bahwa Jakarta juga punya mausoleum yang nggak kalah kerennya, loh. Berlokasi di Taman Pemakaman Umum (TPU) Petamburan, mausoleum yang megah dengan arsitektur bergaya art-deco ini ternyata telah berdiri sejak tahun 1927.  Secara fisik, bentuk bangunan mausoleum tersebut mengingatkan saya pada bangunan-bangunan bergaya Renaissans di kota-kota di Italia, dengan pilar-pilar dan kubah dari batu pualam hitam. Apalagi ada patung malaikat yang dibuat menyerupai dewi Yunani-Romawi dengan sayap dan gaun bergaya Helenisme berdiri di antara dua nisannya.

Menuju pintu masuk bunker atau ruang bawah tanah mausoleum, tempat disimpannya abu kremasi OG Khouw beserta istri dan harta peninggalan mereka. Tulisan ‘Rust in Verde’ di atas pintu bunker berarti Rest in Peace dalam bahasa Inggris. (foto: dokpri)

Mungkin Anda mengira bahwa yang dikubur di dalamnya adalah seorang petinggi kompeni Belanda pada masa penjajahan Hindia Belanda. Ternyata, asumsi tersebut keliru, he he. Yang bersemayam di dalam mausoleum tersebut adalah Oen Giok Khouw, seorang pebisnis perkebunan tebu di daerah Tambun, Bekasi, dan filantropis keturunan Tionghoa dari dinasti keluarga Khouw van Tamboen yang kaya raya dan hidup di Batavia pada awal abad ke-20.

Arsitek G. Racina dari perusahaan Marmi Italiani yang membangun mausoleum untuk OG Khouw dan istri. (foto: dokpri)

Meskipun OG Khouw keturunan Tionghoa, ia tidak bisa berbahasa Mandarin dan lebih sering bermukim di Eropa. Menurut Bapak Adjie, ketua komunitas Love Our Heritage yang mendampingi kami para peserta tur Jakarta Food Traveler, pembangunan mausoleum yang dirancang oleh seorang arsitek dan kontraktor asal Italia bernama G. Racina menghabiskan dana sekitar 250 ribu dolar Amerika Serikat, atau 3 milyar Rupiah! Wow, angka yang fantastis sekali, bahkan untuk zaman sekarang bisa untuk beli kavling apartemen mewah, he he… Katanya sih biaya tersebut melebihi pembangunan makam untuk jutawan Amerika Serikat, John D. Rockefeller (pernah dengar Rockefeller Tower di New York? Saya sih juga belum pernah ke sana😃).

Patung pasangan suami istri, OG Khouw dan Lim Sha Nio, di dalam bunker mausoleum. (foto: dokpri)

OG Khouw yang mendapat kewarganegaraan Belanda meninggal di Swis pada 1 Juli 1927, namun istrinya, Lim Sha Nio, membawa pulang abu hasil kremasi ke Indonesia untuk dikuburkan di mausoleum, tepatnya di dalam bunker. Bunker atau ruang bawah tanah yang tepat berada di bawah nisan, tidak hanya menyimpan abu OG Khouw beserta istri yang meninggal pada tahun 1957. Bunker yang dibuat dari marmer putih ini juga menyimpan harta benda peninggalan dan kesayangan mereka berdua, yaitu piano. Selain itu ada dua buah patung wajah Khouw dan Lim yang menempel di belakang dinding marmer tersebut, sehingga dapat membantu para pengunjung mereka-reka seperti apa rupa mereka berhubung foto keduanya tidak ada.

Pak Sutiono, salah satu peserta tour, diwawancarai oleh televisi swasta Net. Ketika kami melakukan tour, beberapa wartawan televisi dan media cetak juga turut serta untuk meliput. (foto: dokpri)

Yang mengharukan, saking cintanya pada Indonesia, OG Khouw memilih dikuburkan di Indonesia, walaupun setelah dinaturalisasi oleh pemerintah Belanda dan mempunyai harta yang bisa diwariskan hingga tujuh turunan (saking kayanya) tentunya mempunyai priviledge untuk dimakamkan di Eropa. Sayangnya OG Khouw dan istri tidak mempunyai keturunan, sehingga memang mausoleum ini sempat terbengkalai dan tidak terawat dengan baik. Bahkan, makam yang indah ini juga pernah menjadi tempat berasyik-masyuk pasangan ABG, begitu cerita Pak Adjie ketika hendak membuka ruang bawah tanah makam.

Brosur komunitas Love Our Heritage yang diketuai oleh Pak Adjie. (foto: dokpri)

Oleh karena itu Pak Adjie berinisiatif membangun komunitas Love Our Heritage dengan misi menjadikan mausoleum sebagai salah satu tujuan wisata sejarah di Indonesia. Komunitas ini pernah melakukan program ‘Bakti Royong’ dalam rangka membersihkan mausoleum dari sampah, debu dan genangan lumpur pada bulan Mei tahun 2010. Selain itu, berhubung pintu menuju bunker dicuri orang, komunitas ini juga memasang pintu bunker yang baru dan lebih kokoh.

tiga nisan Yahudi yang ditemukan di TPU Petamburan, Jakarta. (foto: dokpri)

Selain mausoleum, yang menarik bagi saya di TPU Petamburan ini adalah adanya tiga buah makam warga keturunan Yahudi, lengkap dengan simbol Bintang David. Sayangnya tidak banyak yang bisa diceritakan mengenai makam Yahudi ini, selain bahwa dulu di Jakarta pernah eksis sebuah komunitas Yahudi yang hidup berdampingan secara damai dengan masyarakat muslim keturunan Arab di daerah Juanda, Jakarta, sebagai sesame pedagang. Kalau menurut literatur yang saya baca di internet, komunitas Yahudi di Jakarta pada masa itu tidak perlu menutup-nutupi identitas mereka ketika berkomunikasi dengan warga sekitar. Mereka juga dapat berkomunikasi dalam bahasa Arab. Namun, sejak tahun 1952 sentimen anti-Yahudi mulai muncul di Indonesia yang menyebabkan komunitas ini semakin lama semakin surut keberadaannya.

(Baca juga cerita saya tentang “Bergaul” dengan Yahudi).

Rumah penyimpanan abu warga Jepang di TPU Petamburan yang dikelola oleh Kedutaan Besar Jepang. (foto: dokpri)

Ada juga nisan khas Jepang yang kata Pak Adjie merupakan makam dari Ayako Kobayashi, seorang warga biasa asal Jepang yang bermukim di Indonesia. Entah tidak diketahui siapa si Ayako ini, yang jelas sih bukan nama pemeran serial Oshin yang pernah ngetop di sepanjang akhir tahun 1980-an 😃. Selain nisan Jepang, ada juga sebuah rumah khusus penyimpanan abu warga Jepang yang dikelola oleh Kedutaan Besar Jepang di TPU Petamburan ini.

Pak Adjie dari Komunitas Love Our Heritage berdiri di samping batu nisan Jepang milik Ayako Kobayashi yang ada di TPU Petamburan. Tapi ini bukan Ayako si pemeran serial Oshin ya ;). (foto: dokpri)

Dari wisata makam ini saya jadi punya gambaran lebih dalam tentang kemajemukan masyarakat Indonesia di masa lampau. Bahwa masyarakat keturunan Tionghoa, Yahudi, dan Jepang pernah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia dan hidup berdampingan dengan rukun. Saya tidak tahu mengapa sekarang, pada saat saya membuat tulisan ini, situasi itu nyaris tidak bisa saya temukan lagi di ibukota. Bung Karno pernah mengatakan, bahwa kemajemukan bangsa Indonesia ini bisa membawa ke dua hal: persatuan dan kesatuan yang indah dan kokoh, atau sebaliknya, perpecahan. Kita sendiri yang bisa menjawabnya. ***

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. Yudi says:

    Wooow… Kereeen.. dan bikin penasaran isi dalam.makamnya lebih jelasnya gimana

    1. dinamars says:

      iya, megah banget dan bikin kagum karena Indonesia pun ternyata punya mausoleum yang punya nilai historis.

  2. Melati says:

    Sering wisata makam waktu kuliah hehehe … Komplek pemakaman yg dekat kokas jg menarik. Gedungnya perpaduan tiga atau empat agama gitu. Museum prasasti agak berantakan ya, banyak yg tersisa nisan doang, tp soe hok gie dikubur di situ siy

    1. dinamars says:

      hoo.. makam prasasti beda dengan makam yang di kokas ya? aku kirain sama 😀

  3. Dewi Rieka says:

    Wah keren juga ya ada musoleum di Jakarta…ada makam Yahudi juga..

    1. dinamars says:

      Iya, berkat ikutan jalan-jalan sama komunitas Jakarta Food Traveler, Mba 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s