Kenangan Transit di Bandara Internasional Hamad, Doha, Qatar

Pemandangan di hall utama Bandara Internasional Hamad, Doha, pada tahun 2014. Waktu itu Uni Emirat Arab masih rukun-rukun aja sama Qatar, sampai logo menara Burj al-Khalij dipasang gede-gede di layar display bandara. (foto: dokpri)

Berita tentang pemutusan hubungan diplomatik antara Qatar dengan negara-negara tetangganya di Timur Tengah masih membuat saya terhenyak. Bukan karena saya punya hubungan khusus dengan negeri penghasil gas bumi terbesar maupun dengan cowok Qatar yang kaya-raya, tapi karena saya pernah singgah di bandara internasional ibukotanya beberapa kali. Bukan sombong bukan apa ya, tetapi membandingkan beberapa maskapai internasional yang pernah saya naiki, saya merasa paling nyaman naik pesawat Arab. Ini juga bukan sombong bukan apa ya kalau saya bilang pernah naik beberapa maskapai internasional macam Cathay Pacific, Singapore Airlines, Air France, Emirates, Etihad dan terakhir Qatar Airways. Itu juga dalam rangka summer school maupun kuliah ke benua Eropa. Kalau dua tahun terakhir (2014-2016) untuk urusan pekerjaan.

Saya senang naik pesawat Arab, kenapa? Pertama service-nya all out banget, dah. Terutama soal makanan :D.  Kagak pelit, medit, dan istilah-istilah lainnya yang bisa mewakili kata pelit. Selain itu, pramugari-pramugaranya ramah-ramah nian, murah senyum, enggak rasis, enggak jutek… Terakhir kali naik Qatar Airways tahun 2016 yang lalu, masih melekat dalam ingatan saya, berjumpa dengan seorang pramugara ganteng nan baik hati di rute penerbangan Doha-Paris. Halah, sebenarnya bukan berjumpa sih, tapi kebetulan si pramugara yang sampai saat ini saya nggak tahu namanya itu memang melayani para penumpang di koridor tempat saya duduk.

pemandangan pesawat yang menunggu penumpang dengan garbarata-nya, saya ambil dari dalam mushola bandara internasional Hamad, Doha. (foto: dokpri)

Pramugara berambut pirang pendek lurus, tubuh tinggi tegap dengan wajah imut yang agak pemalu. Kalau saya dengar dari logat bahasa Inggrisnya yang janggal sih, saya rasa ini pramugara bukan dari negara Anglo-Saxon atau English speaking. Bisa jadi ia berasal dari salah satu dari sekian banyaknya negeri di jazirah Arab (jangan dikira orang-orang Arab itu serupa ya: ya agamanya, ya bahasanya, ya gaya hidupnya. Arab tidak identik dengan Islam dan janggutan serta rambut lebat. Pengalaman bergaul sama orang-orang Arab Syria, Palestina, dan Arab lainnya, bahkan ada orang Arab yang perawakannya ya seperti ras Kaukasia dengan rambut pirang serta mata biru, dan agamanya Kristen). Bisa juga ia berasal dari salah satu negara di Eropa Timur atau kawasan Balkan.

Kenangan yang melekat hingga sekarang, ketika waktunya sarapan, dan saya masih terlelap di bangku. Begitu saya terbangun dan ingin ke toilet, saya segera berdiri, lalu melihat penumpang di sekeliling saya sudah menikmati roti kebab sebagai menu sarapan mereka. Tiba-tiba aja waktu saya berjalan menuju toilet, ada yang mencolek punggung saya dari belakang.

Ternyata, si pramugara ganteng itu. « I’m sorry, » katanya sambil tersenyum malu-malu. « Do you want me to serve your breakfast? I saw you were sleeping so I didn’t want to wake you up.

maskot bandara internasional Hamad, Doha, berupa teddy bear raksasa warna kuning. Sayangnya saya waktu itu enggak banci foto sih ya, jadi nggak ada saya di dalam foto itu. (foto: dokpri)

Duh, sopan banget sih cowok ini, batin saya. Kira-kira apa ya yang terlintas di kepalanya waktu melihat saya tidur? Semoga saya lagi nggak ngiler, huehehehe…

Beda banget dengan pramugari berwajah oriental, dari maskapai yang sama juga namun beda rute, kalau tidak salah Jakarta-Doha, ketika saya sedang terlelap dan tiba-tiba membangunkan saya dengan suara nyaringnya. “Excuse meeeee…… what do you want for your meaaaal?” Ampun, dah, berasa lagi di Pasar Glodok.

Eh, ini bukannya saya rasis ya. Banyak koq pramugari berwajah oriental yang well-mannered juga. Kebetulan saja saya sedang apes kedapatan pramugari bersuara nyaring seperti itu.

Yah, setidaknya, yang saya ingat dua kali saya pernah menggunakan Qatar Airways untuk penerbangan Jakarta-Paris-Jakarta. Namun, memori yang paling melekat tentunya adalah kali kedua dan ketiga saya transit di bandaranya yang baru di Hamad International Airport. Itu tahun 2014 dan 2016. Saya juga baru ingat kalau bandara itu baru ketika iseng mengecek status facebook saya tiga tahun silam, dan ada teman mengomentari status saya itu dengan bertanya, “Gimana, Mbak, bandaranya yang baru?”

kurma yang dibungkus dalam boks mewah di duty free-nya Hamad International Airport, Doha. (foto: dokpri)

Ternyata, Bandara Internasional Hamad pada tahun 2014 itu memang baru banget dibuka, tepatnya tanggal 27 Mei 2014. Dan saya singah di bandara itu pada bulan puasa Ramadhan yang kalau tidak salah jatuh sekitar bulan Juli 2014. Jadi baru tiga bulan berselang setelah pembukaannya. Saya pun takjub melihat kelapangan, kecanggihan, kerapihan, kebersihan, kedisiplinan dan ke- ke- ke- lainnya yang bagus-bagus dari bandara ini.

Betapa tidak, wifi super wusss ! wuss !!! yang gratis bisa diakses di sudut mana pun di bandara ini. Bersihnya ? Wooow… jangan ditanya. Tukang bersih-bersihnya pun memakai mesin sapu yang canggih dan malam larut maupun pagi buta sudah rajin membersihkan lantai-lantai bandara. Kebanyakan petugasnya kalau untuk urusan bersih-membersih begini orang India, Pakistan atau Bangladesh. Yah, muka-mukanya mirip deh antara ketiga suku bangsa itu, jadi saya sebut saja ketiga-tiganya :D.  Dari dulu saya salut sama mereka sebagai pekerja ulet, disiplin, nggak sungkan melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar semacam ini.

Tempat wudhu wanita di Hamad International Airport, Doha. (foto: dokpri)

Musholanya? Apalagi! Tempat wudhu-nya sangat menghargai wanita banget. Ada kursi buat mereka-mereka yang nggak mau nungging sewaktu ambil air wudhu.  Tapi jangan berharap menemukan mukena ya di sini 😊. Bukannya mereka nggak menyediakan mukena, tapi perlu diketahui mukena itu kostum sembahyang khas orang Indonesia. Kalau di sana, dan di negara-negara berpenduduk Islam di jazirah Arab dan Turki pada umumnya, mereka hanya menyediakan semacam kain untuk penutup kepala. Seingat saya sih tidak ada kain untuk sembahyang juga di mushola bandara tersebut, karena kan cewek-ceweknya memang sudah menggunakan gamis longgar. Entahlah ingatan saya bercampur dengan masjid-masjid di Turki yang menyediakan alat sholat khusus untuk wanita.

Setidaknya, saya bangga menjadi umat Islam yang ditampilkan di bandara ini. Umat Islam itu ya harusnya kayak gitu ya, jangan nelangsa, jorok, dekil… Tampilkan sebaik mungkin kepada dunia akan imej Islam yang indah, bagus, welcoming all people.

pesawat Qatar Airways yang sama yang saya amati dari balik mushola bandara internasional Hamad mulai dari dini hari sampai lewat waktu subuh. (foto: dokpri)

Oya, kenyamanan lainnya yang saya dapati naik maskapai Arab dibandingkan maskapai-maskapai internasional lainnya, selalu ada do’a bersama setiap kali pesawat mau take off. Dan suara do’a yang mengalun dari pengeras suara dalam bahasa Arab (entah itu suara pilotnya atau suara otomatis dari perekam) itu sexy banget, ha ha ha! Jangan ngeres duluan yah.. mungkin kan selama ini ada orang yang udah alergi duluan kalau denger orang ngomong dalam bahasa Arab, mungkin juga karena imej yang ditampilkan di Indonesia kebetulan bikin orang takut dan sebagainya. Tapi suara do’a yang dilantunkan dari rekaman pesawat atau pilotnya dalam bahasa Arab itu berwibawa banget, bikin pengen denger lagi dan lagi, bak mendengarkan MC atau suara penyiar radio aja.

Saya nggak tahu kapan akan kembali menikmati penerbangan internasional menggunakan pesawat atau maskapai Qatar Airways. Kalau saya cek di website-nya sih masih ada penerbangan dari Jakarta ke beberapa kota di belahan dunia lainnya seperti Paris atau Los Angeles, misalnya. Meskipun mungkin saja masih bisa menggunakan maskapai-maskapai Arab lainnya, tapi kenangan bersama Qatar Airways dan singgah di Doha akan selalu terekam di memori saya. Ma’as salaamah wa ilal liqo’ (halah sok ke-Arab-Araban :p). Yang artinya, good bye and hope to see you again… ***

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Ignasia Kijm says:

    Wahh, menarik bgt Dina pengalaman di Bandara Doha. Pelayanannya jempol deh, sampe disedian tmp duduk u wudhu. Asal koneksi wifi lancar, transit berjam2 gak masalah ya, haha

    1. dinamars says:

      Iya, bechul, wifinya lancar jaya 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s